cieloveau

cause life is short

Realisme dan Neorealisme

diposting oleh putrinyaperwira-fisip09 pada 07 November 2012
di Teori Hubungan Internasional - 0 komentar

Asumsi Dasar Filosofis mengenai Kemanusiaan

Asumsi dasar realis berdasarkan pandangan pesimis tentang manusia (human nature). Realis menganggap sifat alami manusia yang buruk. Karakter manusia selalu mencari keuntungan untuk memperoleh kekuasaan, bagaimanapun caranya. Manusia memiliki sifat egois dan hasrat instingtif untuk mendominasi orang lain yang ditunjukkan melalui cara kekerasan, konflik, dan penyelesaiannya berujung pada perang demi merebut kekuasaan. Merujuk pada pendapat Einstein yang menyatakan bahwa “pasti ada nafsu manusia untuk membenci dan menghancurkan” (Einstein dalam Jackson & Sorensen, 2005:55).

Sifat buruk manusia ini berdampak pada perilaku negara dalam mendapatkan kepentingan nasionalnya. Manusia sebagai warga negara akan membuat negaranya bersikap “selayaknya” manusia untuk memperkuat negara serta memperluas wilayah, yang semua itu tergabung dalam konsep kekuasaan. Hal ini menunjukkan bahwa sifat manusia memang buruk yang menyebabkan politik internasional sama dengan perjuangan demi kekuasaan, tidak ada pemerintahan dunia, yang berarti merupakan anarkhi internasional (Morgenthau dalam Jackson & Sorensen, 2005:55).

Memiliki prinsip dasar yang sama dengan realisme, kaum neorealis berpandangan bahwa manusia juga memiliki sifat buruk. Manusia dianggap sebagai makhluk yang normal, kadang bermanfaat kadang merugikan. Berbeda dengan realis, neorealis menganggap manusia bisa menggunakan cara-cara yang kooperatif dan konflik untuk meraih keuntungan. Konflik yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh struktur sistem yang memaksa pemimpin negara untuk menjalankan kebijakan luar negeri sesuai dengan logika determinisnya (Jackson & Sorensen, 2005, p. 113).

 

Sistem Internasional

Teori realisme dan neorealisme menganggap anarki dan ketiadaaan lembaga sentral (sebuah pemerintah) menjadi ciri struktur sistem internasional. Sifat anarkis ini memiliki pengertian tidak adanya otoritas sentral yang memaksakan tata tertib serta tidak memiliki wewenang untuk mengatur sikap negara-bangsa (Burchill & Linklater, p. 108).

Kenneth Waltz menjelaskan konsep struktur menurut perspektif neorealisme yaitu sistem internasional terdiri dari serupa unit: setiap negara menjalankan fungsi pemerintahan yang serupa, namun berbeda pada kapabilitas relatifnya. Perbedaan kapabilitas itu menyebabkan konflik dan perang, bukan karena sifat dasar manusia. Sistem internasional bersifat pelit dan abstrak, serta memiliki elemen yang sedikit (Jackson & Sorensen, 2005, p. 67).

Negara-negara berkekuatan besar mengatur sistem internasional. Sekali sistem internasional terbentuk, sistem itu “akan menjadi kekuatan yang unit-unit di dalamnya tak mampu mengontrol, sistem itu membatasi perilaku mereka dan menempatkan mereka antara niat mereka dan hasil dari tindakan mereka.” (Waltz dalam Setiawan, 2008)

 

Agenda Utama

Realisme menganggap keamanan nasional dan kelangsungan negara merupakan yang paling penting dibandingkan hal lainnya; merebut kekuasaan; berfokus pada keamanan negara dan kekuasaan di atas segalanya melalui peningkatan kekuatan militer. Hal-hal tersebut membentuk inti dari kepentingan nasional dengan adanya asumsi bahwa negara lain juga akan mencari dan mempertahankan kepentingan nasionalnya (http://one.indoskripsi.com/).

Pencarian kekuasaan dan keamanan adalah logika dominan dalam politik global, dan bahwa negara sebagai pelaku utama dalam kancah ini tidak punya pilihan selain menghimpun cara kekerasan dalam pencarian perlindungan diri (Burchill & Linklater, p. 110).

Fokus mendasar neorealisme terletak pada keamanan dan kelangsungan hidup sehingga negara bertindak sesuai dengan prinsip menolong diri sendiri dan semuanya mengusahakan agar bisa bertahan. Sama halnya dengan realisme, kekuatan masih menjadi konsep sentral neorealisme. Meskipun demikian, masalah merebut kekuasaan tak lagi dianggap tujuan seperti dalam realisme. Waltz berargumen bahwa dengan dasar teori neorealisme ini negara akan bersaing dalam peningkatan senjata militer dan strategi militer sebagai upaya untuk memperluas dan mempertahankan kekuasaannya. Namun, kekuatan militer ini bukanlah faktor utama yang dapat mempengaruhi perluasan maupun pertahanan kepentingan nasional. Dalam neorealisme terdapat suatu tujuan penyamarataan dan peningkatan melalui faktor lain seperti menjalin kerjasama (http://one.indoskripsi.com/).

Kenneth Waltz menjelaskan, “negara berusaha dalam cara yang lebih kurang masuk akal menggunakan cara yang ada untuk mencapai tujuan yang terjangkau.” Cara-cara itu digolongkan  dalam dua kategori yakni usaha internal seperti meningkatkan kemampuan ekonomi, kekuatan militer, mengembangkan strategi yang lebih pintar, serta usaha eksternal seperti memperkuat dan memperluas aliansi atau memperlemah dan membubarkan aliansi musuhnya (Setiawan, 2008).

 

Aktor Hubungan Internasional

Aktor dalam hubungan internasional menurut perspektif realisme adalah negara yang berdaulat. Negara memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan dalam dan luar negeri, serta membentuk kepentingan nasionalnya. Non-state actor tidak diakui dalam realisme.

Sedangkan dalam perspektif neorealisme, aktor utama dalam hubungan internasional adalah negara. Negara-negara memiliki peran yang bersifat antagonistik demi mewujudkan kepentingan nasional. Namun kaum neorealis juga mengakui peranan dari non-state actor dan organisasi-organisasi antar pemerintah.

 

Kedamaian dan Stabilitas Internasional 

Realisme dan neorealisme mengenal istilah balance of power dalam menjaga perdamaian dan stabilitas internasional. Perimbangan kekuatan berlaku ketika terdapat negara-negara besar yang memiliki kekuatan berimbang dan saling bersikap defensif demi menjaga perdamaian dunia. Negara-negara lain akan membentuk aliansi dan bersekutu dengan salah satu dari negara-negara besar tersebut agar tetap bisa memperoleh kepentingan nasionalnya. Di sini konsep-konsep menyeimbangkan (meningkatkan kekuasaan untuk menandingi kekuasaan yang lain) dan bandwagoning (berpihak dengan kekuasaan yang lain) dikembangkan (http://karmel.web44.net/)

Melalui penggunaan keseimbangan yang tepat, negara bisa mengendalikan kecenderungan kekerasan dengan mempertahankan keseimbangan strategis antara kekuatan-kekuatan besar. Menurut para realis, langkah ini bisa mengurangi, meski tidak menghapuskan, timbulnya perang (Burchill & Linklater, p. 110).

Keseimbangan kekuatan (balance of power) muncul lebih kurang secara otomatis dari insting untuk bertahan. “Kencenderungan keseimbangan kekuatan untuk membentuk apakah sejumlah negara semua negara secara sadar bertujuan membentuk dan mempertahankan keseimbangan atau apakah sejumlah atau beberapa negara bertujuan dominasi universal,” (Waltz dalam Setiawan, 2008).

Waltz menyatakan dalam kapabilitas neorealismenya bahwa sistem bipolar bersifat superior dari sistem multipolar karena bipolar menyediakan stabilitas internasional yang lebih besar sehingga perdamaian dan keamanan juga lebih mungkin tercapai (Jackson & Sorensen, 2005, p. 117).

 

Referensi:

(2008, May 23). Retrieved March 15, 2010, from http://karmel.web44.net/index.php?option=com_content&task=view&id=18&Itemid=2

(2009, December 29). Retrieved March 15, 2010, from http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/realisme-dan-neo-realisme-dalam-hubungan-internasional

Burchill, S., & Linklater, A. Theories of International Relations. London: Macmillan Press.

Jackson, R., & Sorensen, G. (2005). Pengantar Studi Hubungan Internasional. (D. Suryadipura, Trans.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

P., Wendy Andhika. (2008, February 2). Perspektif-Perspektif di dalam Hubungan Internasional. Retrieved March 2010, 15, from http://hi.fisip-unej.com/cetak.php?id=53

Setiawan, A. (2008, October 21). Perspektif-Perspektif Hubungan Internasional. Retrieved March 15, 2010, from http://theglobalpolitics.com/?p=14

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :